Tok, tok, tok! Si penista divonis 2 tahun penjara oleh hakim! Menurut hakim, dia telah terbukti secara sah dan meyakinkan BERSALAH, karena melakukan tindak pidana penodaan agama!

6:27 PM
Tok, tok, tok! Si penista divonis 2 tahun penjara oleh hakim! Menurut hakim, dia telah terbukti secara sah dan meyakinkan BERSALAH, karena melakukan tindak pidana penodaan agama!



Sebenarnya, bukan itu saja. Kita sama-sama tahu, ia juga sering melontarkan ucapan-ucapan yang tendensius dan provokatif selama ini. Tentunya dengan sengaja. Misalnya, beberapa hari yang lalu.
"Mau jadi gubernur aja susah, apalagi jadi wapres. Kafir mana boleh jadi PEJABAT di sini," ujar si penista di Balai Kota, Jakarta. Betapa tendensius dan provokatif ucapan si penista ini!
Terbalik dengan ucapan kasar dan tak berdasar itu, nyatanya sudah tak terhitung jumlah PEJABAT yang non-muslim, bahkan di antara mereka jadi menteri. Contohnya:
1. Ignasius Jonan.
2. Mari Elka Pangestu.
3. Joop Ave.
4. Oei Tjoe Tat.
5. Ong Eng Die.
Gubernur DKI non-muslim? Dulu pernah juga, namanya Henk Ngantung. Keturunan Manado.
Btw, Anda kenal #KwikKianGie? Dua presiden menunjuknya sebagai menteri.
Dia nggak pernah koar-koar dirinya paling nasionalis dan paling pancasilais. Nggak pernah. TAPI, sampai sekarang, tidak ada yang meragukan nasionalisme-nya.
Dia pun nggak pernah koar-koar, "Tetangga saya, Islam. Ayah angkat saya, Islam. Kucing piaran saya, Islam." Nggak pernah. TAPI tidak ada yang meragukan hormatnya terhadap orang-orang Islam.
Dia pun nggak pernah koar-koar, "Saya ini orangnya ber-bhinneka." Kwik sebagaimana warga RI lainnya sudah fasih soal #bhinneka dan #toleransi sejak lama.
Sampai sekarang, tak ada yang memper-masalahkan partai dan ideologinya. Tak ada yang memper-masalahkan agama dan sukunya. Nama Tionghoa-nya? Sama, tak ada yang memper-masalahkan.
Kwik menaruh respect terhadap kita semua. Sebagai timbal baliknya, kita semua pun menaruh respect kepadanya. Kepadanya enggak perlu orang mencongkel-congkel isu minoritas-mayoritas.
Sejenak kita amati dan cermati sekitar 100 Pilkada pada 2017 ini. Hampir-hampir tidak ada isu agama, kecuali di Jakarta. Kenapa? Lha, si penista itu sendiri yang menyulutnya di Kepulauan Seribu.
Cukupkah sampai di situ? Tidak. Dia menghardik Ketua Majelis Ulama Indonesia. Jelas, itu salah. Dengan terpaksa, setelah didesak, akhirnya ia minta maaf. Bahkan petinggi negara turun tangan, memintakan maaf.
Cukupkah sampai di situ? Tidak. Dia menyebut orang-orang yang mencoblos berdasarkan agama adalah bertentangan dengan konstitusi. Jelas, itu salah. Nggak tanggung-tanggung, menteri agama dan Mahfud MD membantah ucapan itu.
Cukupkah sampai di situ? Tidak. Dia mengupload video kampanye yang rasis dan menyakitkan. Jelas, itu salah. Dengan terpaksa, setelah didesak, akhirnya ia menghapus video tersebut beberapa jam kemudian.
Terus, sebenarnya siapa yang rasis? Betul sekali. Dia sendiri. Terbukti, perolehan suaranya pada Putaran Kedua malah merosot dari segi jumlah. Aneh kan? Sepertinya pendukung-pendukungnya merasa risih dengan ucapan dan kelakuannya yang tak kunjung berubah.
Bangsa ini sebenarnya bangsa yang pemaaf. Sudah teruji dengan berbagai kejadian selama puluhan tahun. Tapi, kenapa kali ini begitu marah dan ingin menghukumnya? Karena dia over acting dan melontarkan ucapan-ucapan yang menghina berkali-kali! Yah, nggak kapok-kapok!
Jujur, awal-awal saya sempat sreg sama dia, terutama saat dia menjadi wakil. Tapi, setelah kasus Al-Maidah dan skandal Sumber Waras, hilang sudah rasa sreg saya. Menurut saya, orang ini bagai tumor bagi kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Sedihnya, setiap kali ia berucap rasis, maka yang menjadi sasaran kemarahan adalah etnis-etnis tertentu. Padahal etnis-etnis tersebut tidak ada kaitannya sama dia. Belum tentu juga setuju dengan pendapat dia.
Ya, dia telah menista. Juga rasis. Teman-teman setuju? Yang setuju, share ya. Kalau tidak setuju, ditunggu komennya.
Previous
Next Post »
0 Komentar
google.com, pub-7272292895066217, DIRECT, f08c47fec0942fa0