Kabar Brian Terkini anak yatim piatu karena orang tuanya tertimbun Tanah Longsor di Banaran Pulung Ponorogo

8:51 AM

Hari itu Sabtu 1 April 2017, benar-benar menjadi hari yang buruk bagi warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.
Hanya dengan hitungan detik, material longsor berupa tanah itu menggulung rumah warga di sekitarnya.

Tak hanya melumat rumah-rumah penduduk, 28 warga juga dinyatakan hilang dan diduga tertimbun tanah. Tak heran jika warga menyebut peristiwa itu laiknya tsunami tiga detik.

Banyak korban jiwa dalam peristiwa bencana alam ini. Ada bapak yang kehilangan anaknya. Perempuan menjadi janda dan tidak sedikit pula anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tuanya terkubur bersama puing-puing bangunan dan juga material longsor.

Belum sampai 10 hari, longsor susulan kembali menyerang lokasi yang sama, Minggu (9/4/2017). Beruntung tak ada korban dalam longsor susulan tersebut.

Namun, longsor susulan membuat kebiasaan Brian (10) berubah. Awalnya selepas longsor pertama, bocah bertubuh gendut itu menghabiskan waktu di antara material longsor. Deru alat berat dan ratusan relawan menjadi pemandangan menarik bagi anak seusianya. Sekadar untuk menghibur, sejenak melupakan kepedihan dalam dirinya yang kini sebatang kara.

"Ya dulu sih sering ke sektor A. Brian pernah bilang ingin melihat alat berat yang sedang mencari ibunya. Maklum saja ibunya merupakan korban," kata Miswanto, paman Brian, Rabu (12/4/2017)

Brian, merupakan satu dari sekian banyak anak yang harus menanggung duka kedahsyatan bencana tanah longsor yang menerjang tepat saat sebagian besar orang mengawali aktifitas pagi itu. Kedua orang tuanya, Poniran dan Suprapti hilang bersamaan dengan tanah longsor yang mengubur rumahnya.

"Waktu kejadian itu bapak ibunya sedang berada di rumah. Jadi keduanya jadi korban semua. Rumahnya juga terkubur dengan tanah, sudah habis semua," imbuh Miswanto yang terus mendampingi Brian pascabencana yang merenggut kedua orangtuanya itu.

Miswanto lantas bertutur. Brian menjadi satu-satunya keluarganya yang selamat kala bencana longsor mengubur pemukiman padat penduduk di Desa Banaran itu. Saat kejadian, keponakannya itu tengah menunaikan kewajibannya belajar di sekolah.

"Waktu kejadian, dia langsung ke rumah saya di desa sebelah naik sepeda motor. Saat sampai itu dia langsung menangis dan mengatakan kalau mak e pak e kenek (bapak ibu terkena bencana). Waktu itu saya sebenarnya sudah tahu dan baru akan ke sini," jelasnya sembari mengelus kepala keponakannya itu.

Meski sempat bersedih, seyogyanya, Brian sendiri sudah memahami jika dirinya kini tak lagi memiliki orang tua. Namun, siswa yang kini duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu, mencoba bertahan. Meski terkadang rasa sedih kehilangan muncul dalam hatinya.

"Sebenarnya sudah menyadari kalau orang tuanya sudah tidak ada. Hanya kalau teringat begitu, dia diam dan menyendiri. Selanjutnya menangis. Brian ini tidak pernah menanyakan kemana orang tuanya, karena memang dasarnya pemalu anaknya," ungkapnya.

Sementara, setelah longsor susulan, resmi proses evakuasi korban dihentikan. Brian pun tak lagi bermain di tengah derunya suara alat berat.

Anak bertubuh montok tersebut memilih untuk bermain dengan teman-temannya. Walaupun sempat membolos sekolah gembira yang diadakan di lokasi. Kini Brian sudah kembali lagi.

"Sudah mau sekolah lagi. Orangnya memang pemalu. Tapi raut wajahnya sudah mulai ceria. Sudah mulai tersenyum dan bergembira bersama teman-temannya," kata Kapolsek Pulung, AKP Deny Fachruadianto.

Deny mengatakan, biasanya jika tidak ada kegiatan di sekolah gembira, Brian bermain dengan polisi atau teman-temannya. "Sampai sekarang, bisa lihat Brian sudah bisa tersenyum," pungkasnya. 
Previous
Next Post »
0 Komentar
google.com, pub-7272292895066217, DIRECT, f08c47fec0942fa0